BANJIR DI SUMATERA UTARA, SUMATERA BARAT DAN ACEH: BUKAN SEKADAR HUJAN, TAPI SOAL CARA KITA MENJAGA ALAM













https://www.aljazeera.com/wp-content/uploads/2025/11/afp_692c3bd9d7bf-1764506585.jpg?quality=80&resize=770%2C513

Belakangan ini, banjir kembali terjadi di banyak daerah di Sumatera. Di Sumatera Utara, air merendam wilayah Medan, Deli Serdang, Langkat, hingga Binjai. Aceh juga mengalami hal yang sama, mulai dari Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, wilayah barat dan selatan, sampai Pidie dan Pidie Jaya. Sumatera Barat pun juga ikut terdampak banjir dan longsor di wilayah Padang, Agam, Tanah Datar, Lima Puluh Kota, dan Pesisir Selatan. Kondisi seperti ini sudah sering terjadi dan dirasakan langsung oleh masyarakat.












https://statik.unesa.ac.id/profileunesa_konten_statik%2Fuploads%2Fs1psains/thumbnail/346a6f08-0dbc-4478-aa5e-62e3a9c46c4e.png

Selama ini, banjir sering dianggap terjadi karena hujan yang turun sangat deras. BMKG juga menyebutkan bahwa beberapa wilayah di Sumatera sedang mengalami cuaca ekstrem. Namun, hujan lebat seharusnya tidak selalu berakhir menjadi banjir. Di banyak lokasi, banyak terlihat kayu-kayu besar hanyut dan menumpuk di sungai maupun di sekitar jembatan. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa hutan di daerah daerah sudah banyak yang rusak, sementara sungai sungai juga tidak dikelola dengan baik. Akibatnya, aliran air terhambat dan air pun mudah meluap ke permukiman warga.












https://statik.unesa.ac.id/profileunesa_konten_statik%2Fuploads%2Fs1psains/thumbnail/346a6f08-0dbc-4478-aa5e-62e3a9c46c4e.png

Dalam pandangan Ekonomi Islam, masalah lingkungan bukan sekadar urusan alam, tetapi juga soal tanggung jawab manusia. Alam bukan milik manusia sepenuhnya, melainkan hanya titipan dari Allah SWT. Jika alam dirusak tanpa memikirkan dampaknya, akibatnya akan kembali kepada manusia. Banyak orang yang bisa kehilangan rumah, harta benda, dan sumber penghasilan karena adanya banjir. Kondisi seperti ini sangat tidak sesuai dengan nilai Islam yang selalu mengajarkan manusia untuk menjaga kehidupan dan kesejahteraan bersama.










https://www.antarafoto.com/id/view/2687272/penggalangan-dana-untuk-korban-banjir-di-aceh#:~:text=Sejumlah%20mahasiswa%20Universitas%20Sekolah%20Tinggi%20Agama%20Islam,donasi%20yang%20dilakukan%20mahasiswa%20tersebut%20sebagai%20bentuk

Masalah banjir yang terus berulang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kita sebagai mahasiswa harus bisa ikut berperan dengan cara sederhana. Misalnya, dengan cara ikut menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan, mendukung penegakan hukum terhadap perusakan hutan, dan terlibat dalam kegiatan sosial. Selain itu, mahasiswa juga bisa memanfaatkan dengan adanya zakat, infak, sedekah, dan wakaf untuk membantu warga warga yang terkena musibah, tidak hanya saat darurat, tetapi juga untuk membantu memulihkan kondisi ekonomi mereka.











https://www.jpnn.com/news/tak-hanya-beri-sembako-asabri-juga-dampingi-para-korban-banjir-dan-longsor-di-sumatra

Di balik bencana banjir, masih terlihat sisi baik dari masyarakat, yaitu rasa kebersamaan dan kepedulian. Banyak orang saling membantu, mulai dari warga biasa, mahasiswa, hingga tokoh publik. Media sosial pun digunakan untuk menggalang bantuan dan menyebarkan informasi dengan cepat. Hal seperti ini sangat menunjukkan bahwa tingkat kepedulian masyarakat masih tinggi, dan bencana seperti ini juga bisa menjadi pengingat bahwa nilai sebuah harta terletak pada seberapa besar manfaatnya bagi orang lain.

REFERENSI :
1. Al Jazeera. (2025). Indonesia counts human cost as more climate change warnings sounded.
2. ANTARA News. (2025). Pemerintah tinjau kerusakan daerah aliran sungai di Aceh dan Sumatera Utara akibat banjir.
3. KBR Media. (2025). Pakar bongkar dosa ekologis pemicu bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
4. Mongabay. (2025). Sumatra’s “natural” disaster wasn’t natural: How deforestation turned a rare cyclone catastrophic.
5. The Jakarta Post. (2025). Environmental degradation in spotlight in Sumatra floods.
6. Universitas Gadjah Mada. (2025). Pakar UGM: Banjir bandang di Sumatra dipicu kerusakan ekosistem hutan di hulu DAS.
7. Walhi. (2025). Krisis ekologis dan lemahnya tata kelola lingkungan sebagai pemicu bencana hidrometeorologi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERANAN DAN FUNGSI PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN

EIGOV VI(Ekonomi Islam Goes To Village)

Transformasi Ekonomi Syariah Indonesia: Sinergi Pertumbuhan Keuangan, Industri Halal, dan Digitalisasi